1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4 Budaya Positif

 












1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4 Budaya Positif

 

Nama Modul               : 1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4 Budaya Positif

Nama CGP                  : M. Kadar

Tempat Tugas             : UPT SD Negeri 001 Kasikan

Angkatan                    : 6

 

Pertama sekali sangat pantas saya ucapkan Syukur Alhamdullah kehadirat Allah SWT, karena berkat karunia-Nya saya bisa sampai ke titik ini yakni Modul 1.4.a.8 Koneksi Antar Materi – Modul 1.4 Budaya Positif. Dan pada saat ini saya diminta untuk mengkaitkan antara modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara, 1.2 Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak, 1.3 Visi Guru Penggerak dan 1.4 Budaya Positif. Hal ini sangat penting dilakukan karena dalam pendidikan guru, proses refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Dengan demiakian CGP di harapkan dapat menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, telah mengamanatkan kepada kita, pada pasal 3 terbut dengan jelas diterangkan bahwa pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”

Untuk mencapai itu semua tidak akan semudah membalikkan telapak tangan perlu perjuangan yang ulet dengan sepenuh hati, untuk menjawab tantangan ini diperlukan pembelajaran yang berpihak kepada murid sesuai dengan Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara,

Pada Modul 1.1 Ki Hadjar Dewantara menyampaikan untuk mencapai Kebahagian lahir dan bathin yang setinggi-tingginya diperlukan pembelajaran yang berpihak kepada murid sedangkan guru adalah sebagai penuntun yang bertugas menuntun murid sesuai dengan kodral alam dan kodrat zaman, seorang guru diibaratkan sebagai seorang petani, dimana seorang petani tidak akan bisa memaksa tanamannya tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehendaknya melainkan petani hanya bisa menuntun tanaman tersebut tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat tanaman tersebut dengan cara memperhatikan tanah tempat dia tumbuh, memberi pupuk dan menjaganya dari hama yang bisa menghambat pertumbuhannya, apabila kita kilas balik pada zaman kolonial belanda dimana pendidikan hanya untuk anak pejabat, raja dan pegawai pemerintah yang bertujuan membantu usaha dagang kolonial belanda, tetapi pada zaman sekarang dengan adanya filosofi pendidikan nasional – Ki Hadjar Dewantara maka pendidikan bertujuan menuntun anak untuk dapat mencapai kebahagiaan lahir dan bathin yang setinggi tingginya.

Keterkaitan Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan Nilai- nilai dan peran Guru Pengerak adalah untuk menjalankan pembelajaran yang berpihak kepada murid seorang guru harus memiliki nilai nilai dan dan dapat menerapkan perannya dalam pembelajaran adapun nilai nilai yang harus dimiliki pleh seorang guru penggerak adalah

1.     Berpihak pada murid

2.     Mandiri

3.     Reflektif

4.     Kolaboratif

5.     Inovatif

Sedangkan peran guru penggerak adalah sebagai berikut :

1.     Menjadi pemimpin pembelajaran

2.     Menjadi Coach bagi guru lain

3.     Mendorong Kolaborasi

4.     Mewujudkan kepemimpinan murid ( Student Agency )

5.     Menggerakkan komunitas praktisi

Maka dengan nilai nilai dan fungsi guru penggerak tersebut seorang guru akan bisa menjadi teladan (Ing Ngarso Sung Tulodho), memberikan semangat (Ing Madyo Mangun Karso) dan memberikan dorongan (Tut Wuri Handayani) bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila  sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi tingginya, dengan demikian Visi Guru penggerak harus sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tersebut.

Sedangkan keterkaitan Nilai nilai dan peran Guru Penggerak dengan Visi Guru Penggerak adalah dimana Guru penggerak harus memiliki visi yang disusun dengan BAGJA sedangkan BAGJA dikembangkan berdasarkan hal hal baik yang ditemukan baik dilingkungan kelas maupun di lingkungan sekolah, dimana visi tersebut akan dapat dicapai dengan menerapkan nilai nilai dan peran guru penggerak baik dikelas maupun di lingkungan sekolah dengan dijalankannya nilai nilai dan serta peran guru penggerak pada kelas dan lingkungan sekolah maka akan terbentuk budaya sekolah yang baik atau budaya positif. Sedangkan menjalankan visi guru penggerak dijalankan dengan sebuah paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). Dengan diberlakukannya BAGJA makan akan melahirkan budaya posotif di sekolah.

Untuk mewujudkan budaya positif disekolah tidak akan terlepas dengan bernagai macam permasalahan yang disebabkan perubahan iklim sekolah dari yang semula berdasrkan hukuman dan penghargaan menjadi timbul dari diri sendiri, oleh sebab itu seorang guru manurut Dr. William Glasser, Gossen harus mengetahui 5 posisi kontrol seorang guru yakni Sebagai Penghukum, Pembuat merasa bersalah, Teman, Pemantau dan posisi manajer, dari 5 posisi kontrol tersebut posisi kontrol yang direkomendasikan untuk digunakan dalam proses budaya disiplin yaitu posisi control Manajer . posisi kontrol manager memberikan kebebasan kepada murid untuk menemukan diri mereka sendiri, bertanggung jawab atas masalah yang mereka hadapi dan menemukan solusi terbaik. sehingga nilai-nilai guru seperti kemandirian, inovasi, kolaborasi, kreativitas, dan berpihak pada siswa sangat sesuai dalam mendukung dengan posisi kontrol manajer.

 

Untuk dapat menyelesaikan semua permasahan yang ada, seorang guru diharapkan mampu menerapkan restitusi dalam menyelesaikan masalah tersebut, sedangkan Restitusi adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). Dan dapat menjalankan Setitiga Restitusi dengan baik. Selain dari pada itu seorang guru juga hendaknya mengetahui kebutuhan dasar manusia. Adapaun  kebutuhan dasar manusia adalah sebagai berikut :

1.     Kelangsungan hidup

2.     Cinta dan kepemilikan

3.     Kebebasan

4.     Kesenangan

5.     Kekuasaan

Dengan memahami kebutuhan dasar manusia akan memberikan langkah-langkah yang mudah untuk melakukan pembimbingan kepada murid karena kebutuhan setiap murid memiliki kebutuhan yang berbeda dan merubah peraturan kelas menjadi kesepakatan kelas dan merubahnya menjadi keyakinan kelas.

Mudah mudahan kedepannya saya dapat menjadi sesoorang yang bisa menyebarluaskan budaya positif disekolah, menjadi seorang Manajer baik di lingkungan kelas maupun lingkungan sekolah dan menerapkan pembelajaran yang seutuhnya berpihak pada murid.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1.2.a.8 Koneksi Antar Materi - Nilai dan Peran Guru Penggerak Modul 1.2 M. Kadar

2.2.a.4. Koneksi Antar Materi - Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Serta Kaitanya Dengan Modul- Modul Sebelumnya

Tugas 1.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1